Hadits yang kita bahas kali ini cukup indah untuk membuat kita berhenti dan berpikir tentang cara memandang orang di sekitar kita. Sebelum kami sebut hadits yang dimaksud, mari bertanya pada diri kita. “Siapakah orang paling mulia yang kita kenal? Mengapa kita menganggapnya mulia?

Sering kali, kita menilai orang dengan kriteria sosial tertentu dan juga faktor eksternal. Apakah ini cara paling akurat dalam menilai kemuliaan seseorang? Coba kita simak hadits di bawah ini.

Dari Abul Abbas yaitu Sahal bin Sa’ad as-Saidi r.a., katanya: “Ada seorang lelaki yang berjalan melalui Nabi s.a.w., lalu beliau bertanya kepada seseorang yang sedang duduk di sisinya: “Bagaimanakah pendapatmu tentang orang ini.”

Orang yang ditanya itu menjawab: “Ini adalah seorang lelaki dari golongan manusia bangsawan. Orang ini demi Allah, sudah nyatalah apabila ia melamar seseorang wanita, tentu terlaksana ia dikawinkan dan apabila memintakan pertolongan pada sesuatu, tentu akan dikabulkan permintaan pertolongannya itu – untuk kepentingan orang
lain.”

Selanjutnya ada seorang lelaki lain berjalan melalui Nabi s.a.w. kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda – kepada kawan seduduknya itu:  “Bagaimanakah pendapatmu tentang orang ini?”

Orang itu menjawab: “Ya Rasulullah. Ini adalah seorang lelaki dari golongan kaum fakirnya orang-orang Islam. Orang ini nyatalah bahwa jikalau meminang, tentu tidak akan diterima untuk dikawinkan – dengan yang dipinangnya – dan jikalau memintakan pertolongan pada sesuatu, tentu tidak akan dikabulkan permintaan pertolongannya itu.”

Kemudian Rasulullah bersabda: “Yang ini – yakni yang engkau hinakan karena kefakirannya -adalah lebih baik dari pada seluruh isi bumi itu penuh seperti yang ini – yakni yang dimuliakan karena kekayaannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadits diatas merupakan pengingat yang sangat kuat. Kita segera teringat oleh ayat,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat ayat 13)

Begitulah, banyak di antara kita yang tidak memandang kemuliaan seseorang berdasarkan karakter baik mereka, ketakwaan atau juga kerendahan hatinya. Sebaliknya kita hanya memandang berdasarkan kekayaan atau status sosial mereka.

Sesungguhnya kekayaan dan status sosial yang Allah berikan kepada orang-orang tertentu adalah ujian dari-Nya. Ingatlah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”. (HR. Muslim)

Allah memberi bentuk fisik indah dan atau kuat juga kekayaan sebagai ujian. Allah ingin melihat apa yang orang itu lakukan dengan kelebihan yang diberikan kepadanya. Apakah hal-hal ini digunakan untuk kebaikan atau justru membuatnya berbuat jahat.

Penampilan, status, kekayaan, barang ber-merk, mobil, dan semua yang dianggap kebanyakan manusia sebagai ukuran kemuliaan. Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kita bahwa itu semua bukan ukuran kemuliaan seseorang. Semua “kemuliaan” semu yang kita dapatkan di dunia ini akan ditanya saat di Hari Akhir.

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS At Takatsur ayat 8)

Firman Allah di atas efektif untuk mengingatkan kita agar meningkatkan kerendahan hati, ketakwaan, memperbaiki habluminallah habluminannas. Sebelum kita akhiri, kembali kita renungkan nasihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya.” (HR. Tirmidzi)

Author : Humas Akhtar Foundation

Berbagi ilmu sharing bemanfaat

Related Posts

Hadits yang kita bahas kali ini cukup indah untuk membuat kita berhenti dan berpikir tentang cara memandang orang di sekitar kita. Sebelum kami sebut hadits yang dimaksud, mari bertanya pada diri kita. “Siapakah orang paling mulia yang kita kenal? Mengapa kita menganggapnya mulia?

Sering kali, kita menilai orang dengan kriteria sosial tertentu dan juga faktor eksternal. Apakah ini cara paling akurat dalam menilai kemuliaan seseorang? Coba kita simak hadits di bawah ini.

Dari Abul Abbas yaitu Sahal bin Sa’ad as-Saidi r.a., katanya: “Ada seorang lelaki yang berjalan melalui Nabi s.a.w., lalu beliau bertanya kepada seseorang yang sedang duduk di sisinya: “Bagaimanakah pendapatmu tentang orang ini.”

Orang yang ditanya itu menjawab: “Ini adalah seorang lelaki dari golongan manusia bangsawan. Orang ini demi Allah, sudah nyatalah apabila ia melamar seseorang wanita, tentu terlaksana ia dikawinkan dan apabila memintakan pertolongan pada sesuatu, tentu akan dikabulkan permintaan pertolongannya itu – untuk kepentingan orang
lain.”

Selanjutnya ada seorang lelaki lain berjalan melalui Nabi s.a.w. kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda – kepada kawan seduduknya itu:  “Bagaimanakah pendapatmu tentang orang ini?”

Orang itu menjawab: “Ya Rasulullah. Ini adalah seorang lelaki dari golongan kaum fakirnya orang-orang Islam. Orang ini nyatalah bahwa jikalau meminang, tentu tidak akan diterima untuk dikawinkan – dengan yang dipinangnya – dan jikalau memintakan pertolongan pada sesuatu, tentu tidak akan dikabulkan permintaan pertolongannya itu.”

Kemudian Rasulullah bersabda: “Yang ini – yakni yang engkau hinakan karena kefakirannya -adalah lebih baik dari pada seluruh isi bumi itu penuh seperti yang ini – yakni yang dimuliakan karena kekayaannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadits diatas merupakan pengingat yang sangat kuat. Kita segera teringat oleh ayat,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat ayat 13)

Begitulah, banyak di antara kita yang tidak memandang kemuliaan seseorang berdasarkan karakter baik mereka, ketakwaan atau juga kerendahan hatinya. Sebaliknya kita hanya memandang berdasarkan kekayaan atau status sosial mereka.

Sesungguhnya kekayaan dan status sosial yang Allah berikan kepada orang-orang tertentu adalah ujian dari-Nya. Ingatlah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”. (HR. Muslim)

Allah memberi bentuk fisik indah dan atau kuat juga kekayaan sebagai ujian. Allah ingin melihat apa yang orang itu lakukan dengan kelebihan yang diberikan kepadanya. Apakah hal-hal ini digunakan untuk kebaikan atau justru membuatnya berbuat jahat.

Penampilan, status, kekayaan, barang ber-merk, mobil, dan semua yang dianggap kebanyakan manusia sebagai ukuran kemuliaan. Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kita bahwa itu semua bukan ukuran kemuliaan seseorang. Semua “kemuliaan” semu yang kita dapatkan di dunia ini akan ditanya saat di Hari Akhir.

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS At Takatsur ayat 8)

Firman Allah di atas efektif untuk mengingatkan kita agar meningkatkan kerendahan hati, ketakwaan, memperbaiki habluminallah habluminannas. Sebelum kita akhiri, kembali kita renungkan nasihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya.” (HR. Tirmidzi)

Author : Humas Akhtar Foundation

Berbagi ilmu sharing bemanfaat

Related Posts

Manusia Paling Mulia

Hadits yang kita bahas kali ini cukup indah untuk membuat kita berhenti dan berpikir tentang cara memandang orang di sekitar kita. Sebelum kami sebut hadits yang dimaksud, mari bertanya pada diri kita. “Siapakah orang paling mulia yang kita kenal? Mengapa kita menganggapnya mulia?

Sering kali, kita menilai orang dengan kriteria sosial tertentu dan juga faktor eksternal. Apakah ini cara paling akurat dalam menilai kemuliaan seseorang? Coba kita simak hadits di bawah ini.

Dari Abul Abbas yaitu Sahal bin Sa’ad as-Saidi r.a., katanya: “Ada seorang lelaki yang berjalan melalui Nabi s.a.w., lalu beliau bertanya kepada seseorang yang sedang duduk di sisinya: “Bagaimanakah pendapatmu tentang orang ini.”

Orang yang ditanya itu menjawab: “Ini adalah seorang lelaki dari golongan manusia bangsawan. Orang ini demi Allah, sudah nyatalah apabila ia melamar seseorang wanita, tentu terlaksana ia dikawinkan dan apabila memintakan pertolongan pada sesuatu, tentu akan dikabulkan permintaan pertolongannya itu – untuk kepentingan orang
lain.”

Selanjutnya ada seorang lelaki lain berjalan melalui Nabi s.a.w. kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda – kepada kawan seduduknya itu:  “Bagaimanakah pendapatmu tentang orang ini?”

Orang itu menjawab: “Ya Rasulullah. Ini adalah seorang lelaki dari golongan kaum fakirnya orang-orang Islam. Orang ini nyatalah bahwa jikalau meminang, tentu tidak akan diterima untuk dikawinkan – dengan yang dipinangnya – dan jikalau memintakan pertolongan pada sesuatu, tentu tidak akan dikabulkan permintaan pertolongannya itu.”

Kemudian Rasulullah bersabda: “Yang ini – yakni yang engkau hinakan karena kefakirannya -adalah lebih baik dari pada seluruh isi bumi itu penuh seperti yang ini – yakni yang dimuliakan karena kekayaannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadits diatas merupakan pengingat yang sangat kuat. Kita segera teringat oleh ayat,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat ayat 13)

Begitulah, banyak di antara kita yang tidak memandang kemuliaan seseorang berdasarkan karakter baik mereka, ketakwaan atau juga kerendahan hatinya. Sebaliknya kita hanya memandang berdasarkan kekayaan atau status sosial mereka.

Sesungguhnya kekayaan dan status sosial yang Allah berikan kepada orang-orang tertentu adalah ujian dari-Nya. Ingatlah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”. (HR. Muslim)

Allah memberi bentuk fisik indah dan atau kuat juga kekayaan sebagai ujian. Allah ingin melihat apa yang orang itu lakukan dengan kelebihan yang diberikan kepadanya. Apakah hal-hal ini digunakan untuk kebaikan atau justru membuatnya berbuat jahat.

Penampilan, status, kekayaan, barang ber-merk, mobil, dan semua yang dianggap kebanyakan manusia sebagai ukuran kemuliaan. Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kita bahwa itu semua bukan ukuran kemuliaan seseorang. Semua “kemuliaan” semu yang kita dapatkan di dunia ini akan ditanya saat di Hari Akhir.

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS At Takatsur ayat 8)

Firman Allah di atas efektif untuk mengingatkan kita agar meningkatkan kerendahan hati, ketakwaan, memperbaiki habluminallah habluminannas. Sebelum kita akhiri, kembali kita renungkan nasihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya.” (HR. Tirmidzi)

Author : Humas Akhtar Foundation

Berbagi ilmu sharing bemanfaat

Read Offline:

Post comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 Akhtar Foundation. All rights reserved.